Minggu, 15 Agustus 2010

membaca fenomena makam para wali


pemandangan yang lazim pada setiap makam para wali :
banyak peziarah,
banyak yang mendo'akan,
bangunan makam yang super elit hingga sederhana,
terdapat musola hingga masjid,
terdapat pengurus organisasi dari yang kecil-kecilan
semacam juru kunci hingga terbentuknya yayasan,
terdapat kegiatan administrasi dari kas kecil hingga menumbuhkan interprener bisnis
dan menaungi hajat ekonomi masyarakat sekitar,
bagaimana ini...? ada orang hidup pada orang mati


sedangkan kita tahu kematian itu:
tak butuh uang,
tak butuh bangunan tempat, apalagi kemewahan,
tak ingin masyhur,
tidak berharap sesuatupun pada sesama mahluk,

maka kita sadari;
hidup hanya butuh, berharap dan bersandar pada yang maha kuasa- Allah Azza wajalla.
kebendaan, kemulyaan-kemasyhuran adalah hak Allah,

"urip sajerone mati dan mati sajerone urip"
kehidupan yang sejati sedang bermula
ketika fungsi-fungsi kematian jasati telah terjadi
hidupnya diri sejati terbebasnya diri dari beban kebendaan
dan segala urusan keduniaan
kehidupan diri sejati kala mengEsa
bertemu dengan sang maha Cinta

Tidak ada komentar:

Posting Komentar