Selasa, 24 Agustus 2010

lalilatul qodar media bertemu Allah

laitul qodar-kan malam-malam-mu setiap malam
rengkuh lailatul qodar dalam setiap malam

jangan batasi malam-malamu untuk bersimpuh di depan pintu istana Allah

jangan sempitkan malamu dengan angka-angka
jangan pula kurangi ketulusan ubudiahmu pada yang Maha Cinta.

rindu membiru selalu pada setiap malam

malam terjadi lailatul qodar

siang terjadi gerhana ke-fana-an, malam diliputi lailatul qodar
diri hilang musnah tak berbekas
oleh keberadaan Al-haq Azza Wajalla

Kamis, 19 Agustus 2010

duh Gusti, hamba menagis lagi

menghadapMU tidak dengan apa-apa,
aku ini tiada apa,
gerhana fana mengurung

tak paham tendensi/ condong,

karena rida tak ada rencana, tak kenal mengapa dan bagaimana,
bingung, berdiam, menangis bagai mana ini...? aku mencintaiMU, tapi ....apa mungkin..?

diriku telah habis tak tersisa, tak ada yang pantas di banggakan. gagah dan tampan/ rupawan hanya cerita, kekayaan seisi ruang tata kosmos adalah mahlukmu, segala kemulyaan yang disebutkan seisi mahluk adalah hakMU

Duh Gusti,....

hamba menghadapMU tidak dengan apa-apa
hamba ini tiada apa
habisi diri dengan ketiadaan selalu,
karena hanya Engkau yang Maha Wujud, Terdahulu dan Langgeng (ujud, kidam, baqo).

Minggu, 15 Agustus 2010

membaca fenomena makam para wali


pemandangan yang lazim pada setiap makam para wali :
banyak peziarah,
banyak yang mendo'akan,
bangunan makam yang super elit hingga sederhana,
terdapat musola hingga masjid,
terdapat pengurus organisasi dari yang kecil-kecilan
semacam juru kunci hingga terbentuknya yayasan,
terdapat kegiatan administrasi dari kas kecil hingga menumbuhkan interprener bisnis
dan menaungi hajat ekonomi masyarakat sekitar,
bagaimana ini...? ada orang hidup pada orang mati


sedangkan kita tahu kematian itu:
tak butuh uang,
tak butuh bangunan tempat, apalagi kemewahan,
tak ingin masyhur,
tidak berharap sesuatupun pada sesama mahluk,

maka kita sadari;
hidup hanya butuh, berharap dan bersandar pada yang maha kuasa- Allah Azza wajalla.
kebendaan, kemulyaan-kemasyhuran adalah hak Allah,

"urip sajerone mati dan mati sajerone urip"
kehidupan yang sejati sedang bermula
ketika fungsi-fungsi kematian jasati telah terjadi
hidupnya diri sejati terbebasnya diri dari beban kebendaan
dan segala urusan keduniaan
kehidupan diri sejati kala mengEsa
bertemu dengan sang maha Cinta

Rabu, 11 Agustus 2010

puasa tak sekedar merubah pola makan.
lebih dari itu, hakikat utama adalah mencegah, menahan dan menghindar dari segala hal yang tidak berorientasi pada ALLah, tidak ada batas ruang dan waktu

Penuhi hati dengan cintaNya


ada rindu yang menderu nan menggelora namun jiwa tiada daya menggapaiNya
sadar akan hijab tebal yang menyelimuti keinginan tuk bertemu

dengan apakah aku menyambutnya...
mungkinkah dengan wirid, zikir, shalat, puasa, sedekah atau bahkan berkholwat ??
... cukupkah itu dianggap ibadah ...?

sedangkan, aku telah sadar;
Dia maha Mulya,
Dia maha Raja di Raja,
Dia maha Kaya, maha berkuasa, berdaya, maha mengetahui atas segalanya,

dengan apa aku mencintaiNya hingga Dia mencintaiku
sedangkan Dia maha sempurna, tak butuh apa-apa

ohhhh... yang maha Cinta...,
ternyata cintaku setengah hati,
karena masih adanya pamrih pahala-akherat sebagai imbalan,

ternyata cintaku setengah hati,
karena ada syirik yang tersembunyi dan tak kusadari.. merayap seperti langkahnya semut hitam diatas batu hitam

Selasa, 10 Agustus 2010

memohon satu rindu, mengharap cintaMU

ku ingin.... meski tak pantas.

MENYEBUT ... SEBANYAK NAFAS BERTAUT
MENGINGAT ... SEPANJANG HAYAT
MERINDU .... SEPANJANG WAKTU
mencintaiMU mencukup cinta-cinta yang lain

berguru pada musafir


menatap riuhnya warna dunia
yang telah dipenuhi kemunafikan, egois, srei, drengki, jahil, metakil panasten-dahwen,
menjadi esensi head land berita koran, tv, radio sampai obrolan di warung sekoteng tepi jalan dan lain-lain.

namun, hidup harus terus berjalan.
harus tetap optimis dan tenang,
berbantalkan sabar, berselimutkan pasrah dalam pelukan taqdir.
(Fathurrabbani ; syeh Abdul Qodir Jaylani)


aku melihatlah disana, ada beberapa orang yang tetap optimis dan tetap tenang itu,
di tepi jalan, di sudut kota, di sunyinya hutan dan gunung, di bawah jembatan yang teduh, di makam-makam kuno.

siapakah mereka??
dialah para musafir sejati
penempuh perjalanan fi-llah :
melalui perjalanan panjang ; Abid, Tho'at, mahabbah, keEsaan, fana dan baqa
totalitas cinta gila pada yang maha CINTA
Al-Haq Azza wajalla